Agar kita dapat mempunyai kehidupan pribadi yang tertib dan damai, buku ini telah menghimbau kita untuk berserah kepada Tuhan dengan sepenuhnya, rajin belajar untuk lebih mengenal dia, dan seharusnya kita sudah siap untuk menempuh hidup ini, bukan ? Ternyata tidak, Gordon mementingkan istirahat. Ini adalah hal yang tampaknya tidak masuk akal, karena kita selalu berpikir bahwa istirahat itu dibutuhkan setelah kita bekerja. Gordon menekankan bahwa selain memberi kita pemulihan, istirahat juga mempersiapkan diri kita untuk yang baru.
Istirahat dibutuhkan, karena setelah kita mencapai rasa ketentraman jiwa, kita dapat menghadapi kekacauan hidup dunia sepanjang minggu ini. Gordon bahkan menyarankan para pendeta untuk mengambil waktu beristirahat pada hari lain, selain hari Minggu, karena pendeta biasanya terlalu sibuk pada hari Minggu.
Menuliskan ke journal, setiap hari, akan refleksi kita atas kejadian sehari-hari, adalah suatu cara yang baik untuk mendengarkan dan mengetahui rencana Tuhan atas hidup kita. Disini, Gordon menarik pandangan psikologi akan pentingnya bermeditasi, dan renungan sehari-hari. Meditasi, renungan, ataupun menulis di journal dapat mengosongkan pikiran kita dari kesibukan kita agar kita dapat lebih fokus dalam persekutuan kita dengan Tuhan. Kemudian, kita akan menemukan sumber kekuatan rohani yang baru untuk menjalani hidup kita. Kita dapat lebih mengevaluasi diri sendiri, mengoreksi, dan merencakan yang hal-hal yang baru dengan lebih bijaksana.
Saya rasa buku ini sangat baik, tapi buku ini secara keseluruhan lebih menitik beratkan cara-cara konseling psikologi. Buku ini lebih condong memberi saran konseling untuk menangani masalah kita. Memang tidak ada salahnya, tapi kta harus sadar bahwa berarti tidak semua cara yang disarankan itu mutlak benar, dan tidak semuanya harus diikuti.
Wednesday, July 30, 2008
Sunday, July 27, 2008
"Ordering your private world" Part 2: Wisdom & Knowledge
Setelah Gordon mengajak kita untuk mendasarkan segala kesibukan kita pada agenda Tuhan, dia mengajak kita untuk lebih mengenal Tuhan dan mengetahui apa kehendak Tuhan bagi kita. Gordon berbeda sekali dengan Loren Cunningham, pengarang dari buku satu lagi yang kita baca juga. Untuk mengetahui kehendak Tuhan, Gordon membawa perhatian kita kepada Firman Tuhan sepenuhnya. Dia tidak melalaikan doa untuk meminta bimbingan Roh Kudus dalam memberi kita pengertian akan apa yang kita baca, tapi dia mengajak kita untuk banyak belajar disamping berdoa.
Gordon mengatakan bahwa ada dua macam orang Kristen dalam pelayanan dan pertumbuhannya. Bagaikan dua orang pelari marathon, yang pertama dia lari begitu kencang, kemudian kehabisan tenaga sebelum sampai garis selesai. Pelari yang kedua lari agak pelan, tapi berlari terus sampai ke tempat tujuan, dan mengalahkan pelari yang pertama. Demikian pula orang Kristen, ada yang mengandalkan pengetahuan Kristen dari katekesasi dan sekolah minggu saja, dia terus melayani, dan berharap untuk bertumbuh dalam Kristus. Tetapi setengah jalan, orang Kristen ini akan menjadi frustasi dalam kesibukannya sendiri yang telah menjadi rutinitas. Di lain pihak, ada orang Kristen yang membagi banyak waktu untuk belajar disamping melayani, sehingga dia terus melayani, walaupun pada mulanya tidak sebanyak orang Kristen yang pertama.
Disini Gordon menegur banyak pendeta yang sudah tidak pernah lagi mencari bahan baru, dan mengulang khotbah mereka hanya dengan judul, kiasan, paket yang berbeda. Demikian pula Gordon menegur kita sebagai jemaat yang pengetahuannya tidak lebih dari apa yang kita pelajari sewaktu kita kecil di sekolah minggu dan katekesasi. Setelah kita dibaptis, seakan-akan kita sudah mengetahui semua akan Alkitab, dimana kita menganggap khotbah hari Minggu dan Bible Study sebagai cerita lama dari katekesasi yang diulang kembali. Kita sekolah dari SD sampai mendapat gelar BA 16 tahun lamanya, kita bisa mendapat PhD setelah 22 tahun belajar dari SD. Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen dan 'mempelajari' Firmannya, bagaimana dengan pengetahuan kita akan Firman Tuhan ?
Gordon mementingkan pengetahuan Alkitab, dan teologia yang solid, karena untuk mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita, kita harus mencarinya melalui Firman Nya. Pengetahuan kita akan Firman Tuhan akan menentukan berapa tepatnya kita dalam mengerti kehendak Nya, dan juga pimpinan Dia dalam hidup kita. Memang pengetahuan hanyalah ratio, bukan iman, tapi tanpa ini, kita tidak akan tahu apa yang harus kita lakukan dengan iman dan kasih kita. Gordon mengingatkan kita bahwa tokoh-tokoh penting seperti Paulus, Yohanes Pembaptis, bahkan Yesus sendiri, bertahun-tahun bertumbuh dalam pengetahuan sebagai persiapan mereka sebelum melayani. Terlebih lagi, mereka senantiasa mengadakan waktu untuk belajar dan berdoa di tengah-tengah kesibukan pelayanan mereka.
Pengetahuan yang harus kita pelajari bukan saja dalam bidang pekerjaan kita, bukan saja dalam teologia, tetapi dalam segala bidang, baik itu musik, sastra, kesenian, fisika, biologi, sosiologi, dsb. Ini mungkin kedengaran seakan Gordon meminta kita untuk menjadi seorang professor, tapi Gordon mengingatkan kita bahwa pengertian dan pandangan hidup setiap orang akan mempengaruhi bagaimana orang itu menghadapi masalah-masalah di dunia ini. Gordon telah disini telah menyinggung satu konsep filsafat Jerman yang berakar dari Amerika di awal abad 20. Dasar pengertian dan pandangan hidup yang setiap orang miliki ini disebut "Weltanschauung" (Welt = dunia, Anschauung = pandangan) oleh para ahli Linguistics. Sebagai seorang Kristen, kita harus memiliki pengertian akan tempat, misi dan visi kita di dunia ini. Terlebih lagi kita harus mengetahui dimana kita harus meletakkan ilmu pengetahuan dan pendapat sekuler, di dalam hidup kita. Kita harus mempelajari banyak Firman Tuhan agar kita dapat berakar kuat, tetapi kita juga harus mempelajari hal-hal yang lain agar kita dapat mengambil keputusan yang benar, dan tidak gampang tergoyah ajaran dan pendapat duniawi. Dengan demikian, kita akan dapat mengambil keputusan dan memberi pendapat yang tepat sebagai orang Kristen yang benar, dalam berbagai macam hal seperti politik, pop culture, euthanasia, death penalty, abortion, evolution, globalization, dsb.
Gordon mengatakan bahwa ada dua macam orang Kristen dalam pelayanan dan pertumbuhannya. Bagaikan dua orang pelari marathon, yang pertama dia lari begitu kencang, kemudian kehabisan tenaga sebelum sampai garis selesai. Pelari yang kedua lari agak pelan, tapi berlari terus sampai ke tempat tujuan, dan mengalahkan pelari yang pertama. Demikian pula orang Kristen, ada yang mengandalkan pengetahuan Kristen dari katekesasi dan sekolah minggu saja, dia terus melayani, dan berharap untuk bertumbuh dalam Kristus. Tetapi setengah jalan, orang Kristen ini akan menjadi frustasi dalam kesibukannya sendiri yang telah menjadi rutinitas. Di lain pihak, ada orang Kristen yang membagi banyak waktu untuk belajar disamping melayani, sehingga dia terus melayani, walaupun pada mulanya tidak sebanyak orang Kristen yang pertama.
Disini Gordon menegur banyak pendeta yang sudah tidak pernah lagi mencari bahan baru, dan mengulang khotbah mereka hanya dengan judul, kiasan, paket yang berbeda. Demikian pula Gordon menegur kita sebagai jemaat yang pengetahuannya tidak lebih dari apa yang kita pelajari sewaktu kita kecil di sekolah minggu dan katekesasi. Setelah kita dibaptis, seakan-akan kita sudah mengetahui semua akan Alkitab, dimana kita menganggap khotbah hari Minggu dan Bible Study sebagai cerita lama dari katekesasi yang diulang kembali. Kita sekolah dari SD sampai mendapat gelar BA 16 tahun lamanya, kita bisa mendapat PhD setelah 22 tahun belajar dari SD. Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen dan 'mempelajari' Firmannya, bagaimana dengan pengetahuan kita akan Firman Tuhan ?
Gordon mementingkan pengetahuan Alkitab, dan teologia yang solid, karena untuk mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita, kita harus mencarinya melalui Firman Nya. Pengetahuan kita akan Firman Tuhan akan menentukan berapa tepatnya kita dalam mengerti kehendak Nya, dan juga pimpinan Dia dalam hidup kita. Memang pengetahuan hanyalah ratio, bukan iman, tapi tanpa ini, kita tidak akan tahu apa yang harus kita lakukan dengan iman dan kasih kita. Gordon mengingatkan kita bahwa tokoh-tokoh penting seperti Paulus, Yohanes Pembaptis, bahkan Yesus sendiri, bertahun-tahun bertumbuh dalam pengetahuan sebagai persiapan mereka sebelum melayani. Terlebih lagi, mereka senantiasa mengadakan waktu untuk belajar dan berdoa di tengah-tengah kesibukan pelayanan mereka.
Pengetahuan yang harus kita pelajari bukan saja dalam bidang pekerjaan kita, bukan saja dalam teologia, tetapi dalam segala bidang, baik itu musik, sastra, kesenian, fisika, biologi, sosiologi, dsb. Ini mungkin kedengaran seakan Gordon meminta kita untuk menjadi seorang professor, tapi Gordon mengingatkan kita bahwa pengertian dan pandangan hidup setiap orang akan mempengaruhi bagaimana orang itu menghadapi masalah-masalah di dunia ini. Gordon telah disini telah menyinggung satu konsep filsafat Jerman yang berakar dari Amerika di awal abad 20. Dasar pengertian dan pandangan hidup yang setiap orang miliki ini disebut "Weltanschauung" (Welt = dunia, Anschauung = pandangan) oleh para ahli Linguistics. Sebagai seorang Kristen, kita harus memiliki pengertian akan tempat, misi dan visi kita di dunia ini. Terlebih lagi kita harus mengetahui dimana kita harus meletakkan ilmu pengetahuan dan pendapat sekuler, di dalam hidup kita. Kita harus mempelajari banyak Firman Tuhan agar kita dapat berakar kuat, tetapi kita juga harus mempelajari hal-hal yang lain agar kita dapat mengambil keputusan yang benar, dan tidak gampang tergoyah ajaran dan pendapat duniawi. Dengan demikian, kita akan dapat mengambil keputusan dan memberi pendapat yang tepat sebagai orang Kristen yang benar, dalam berbagai macam hal seperti politik, pop culture, euthanasia, death penalty, abortion, evolution, globalization, dsb.
Saturday, July 26, 2008
"Ordering your private world" Part 1: Motivation & Use of Time
Buku terakhir dari list summer book review kita adalah "Ordering Your Private World" yang ditulis oleh Gordon MacDonald, seorang pendeta besar di Massachusetts. Dia mengutamakan bahwa yang terpenting dalam hidup kita itu adalah keteraturan hidup pribadi, yang akan membawa rasa damai dalam hidup kita sehari-hari.
Di tengah-tengah kesibukan kita sehari-hari, baik dalam pekerjaan, sekolah ataupun kesibukan pelayanan pada akhir minggu, Gordon mengajak kita untuk mengevaluasi lagi apa motivasi kita dalam segala kesibukan itu. Jika kita mempunyai banayak pekerjaan, banyak tugas, itu berarti kita akan mendapat banyak hasil. Oleh karena itu, kesibukan biasanya akan membawa banyak sukses, baik itu dalam pekerjaan, sekolah ataupun pelayanan. Tetapi jika kita hanyalah sibuk untuk berhasil, berarti kita telah mementingkan keberhasilan itu sendiri, kebanggaan diri sendiri. Meskipun kesibukan itu adalah kesibukan gereja, jika motivasi kita hanyalah kesuksesan misi pelayanan kita, maka kita telah salah langkah.
Mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa sibuk dalam pelayanan tidak akan mungkin salah. Gordon mengingatkan bahwa pelayanan yang sibuk yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, itu tidak benar. Kesibukan apapun juga harus bermotivasi untuk memenuhi kehendak Tuhan, bukan untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kita sendiri. Banyak waktu yang terkuras setiap hari untuk menangani kesibukan, tetapi kita sering lalai memperhatikan dan mempertanyakan apa motivasi dibalik semua itu.
Dengan mengingatkan kita akan hal ini, Gordon dengan secara tidak langsung telah menyinggung salah satu aspek doktrin iman & keselamatan yang kita sering lalaikan. Iman adalah "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang belum kita lihat" (Ibrani 11:1). Telah dikatakan bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, tapi apakah yang kita harapkan ? Untuk apa kita hidup di dunia ini setiap hari ? Apakah yang kita harapkan ? Tentu saja yang kita harapkan adalah sesuatu yang "belum kita lihat" dan belum kita alami, yaitu kebangkitan daging dan kehidupan yang kekal. Jika iman adalah dasar dari apa yang kita paling harapkan, maka iman adalah pusat hidup kita. Paul Tillich mengatakan "Faith is the ultimate concern". Iman adalah 'the ultimate concern', karena apapun yang kita lakukan dalam iman itu berkaitan dengan apa yang paling kita harapkan. Jika kita setiap hari berpikir untuk menjadi seseorang yang berhasil, maka kita telah mengimani keberhasilan itu sendiri. Jika kita setiap hari berusaha untuk menjadi terkenal, maka kemashyuran itulah tujuan iman, dan tuhan kita.
Jadi, iman yang menyelamatkan bukanlah sekedar "percaya", sekedar "iya dan amin". Perkataan dengan mulut "Puji Tuhan, aku percaya Yesus" tidak akan menyelamatkan kita, karena perkataan mulut bukanlah iman. Mengetahui dan percaya bahwa Yesus telah menyelamatkan kita, itu bukanlah iman. Itu adalah pengetahuan belaka, karena iblis pun tahu dan percaya bahwa Yesus memang telah mati untuk menebus dosa kita. Pelayanan, sebagai aktivitas rutin bukanlah pelayanan sejati jika pusat hidup kita bukan lagi Tuhan. Iman tanpa perbuatan tidak berarti, tetapi perbuatan tanpa iman juga tidak menyelamatkan. Hanya iman yang mengutamakan Yesus lah yang akan menghasilkan buah-buah pelayanan sejati, dan hanya iman itulah yang akan menyelamatkan kita.
Jika iman kita, pusat hidup kita, adalah kekekalan bersama Tuhan, maka segala usaha yang kita lakukan di dunia ini adalah untuk kembali bersama dengan Yesus, untuk memuliakan dan mengutamakan Dia. Segala motivasi, dan pembagian waktu di dalam hidup kita, kita serahkan kepada Tuhan. Tapi bagaimana kita bisa mengetahui apa yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita ? Sebelum kita membagi waktu buat hal-hal yang lain, kita harus memberi waktu khusus untuk berdoa dan meminta bimbingan Tuhan setiap hari. Keputusan kita untuk memberi waktu bagi Tuhan, akan menentukan bagaimana kita membagi waktu kita yang tersisa.
Gordon memulai bukunya dengan dua bab diatas (Motivation & Use of Time), karena memusatkan hidup, pikiran, hati dan tenaga kita kepada Tuhan dengan sepenuhnya adalah sumber dari segala sesuatu.
Di tengah-tengah kesibukan kita sehari-hari, baik dalam pekerjaan, sekolah ataupun kesibukan pelayanan pada akhir minggu, Gordon mengajak kita untuk mengevaluasi lagi apa motivasi kita dalam segala kesibukan itu. Jika kita mempunyai banayak pekerjaan, banyak tugas, itu berarti kita akan mendapat banyak hasil. Oleh karena itu, kesibukan biasanya akan membawa banyak sukses, baik itu dalam pekerjaan, sekolah ataupun pelayanan. Tetapi jika kita hanyalah sibuk untuk berhasil, berarti kita telah mementingkan keberhasilan itu sendiri, kebanggaan diri sendiri. Meskipun kesibukan itu adalah kesibukan gereja, jika motivasi kita hanyalah kesuksesan misi pelayanan kita, maka kita telah salah langkah.
Mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa sibuk dalam pelayanan tidak akan mungkin salah. Gordon mengingatkan bahwa pelayanan yang sibuk yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, itu tidak benar. Kesibukan apapun juga harus bermotivasi untuk memenuhi kehendak Tuhan, bukan untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kita sendiri. Banyak waktu yang terkuras setiap hari untuk menangani kesibukan, tetapi kita sering lalai memperhatikan dan mempertanyakan apa motivasi dibalik semua itu.
Dengan mengingatkan kita akan hal ini, Gordon dengan secara tidak langsung telah menyinggung salah satu aspek doktrin iman & keselamatan yang kita sering lalaikan. Iman adalah "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang belum kita lihat" (Ibrani 11:1). Telah dikatakan bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, tapi apakah yang kita harapkan ? Untuk apa kita hidup di dunia ini setiap hari ? Apakah yang kita harapkan ? Tentu saja yang kita harapkan adalah sesuatu yang "belum kita lihat" dan belum kita alami, yaitu kebangkitan daging dan kehidupan yang kekal. Jika iman adalah dasar dari apa yang kita paling harapkan, maka iman adalah pusat hidup kita. Paul Tillich mengatakan "Faith is the ultimate concern". Iman adalah 'the ultimate concern', karena apapun yang kita lakukan dalam iman itu berkaitan dengan apa yang paling kita harapkan. Jika kita setiap hari berpikir untuk menjadi seseorang yang berhasil, maka kita telah mengimani keberhasilan itu sendiri. Jika kita setiap hari berusaha untuk menjadi terkenal, maka kemashyuran itulah tujuan iman, dan tuhan kita.
Jadi, iman yang menyelamatkan bukanlah sekedar "percaya", sekedar "iya dan amin". Perkataan dengan mulut "Puji Tuhan, aku percaya Yesus" tidak akan menyelamatkan kita, karena perkataan mulut bukanlah iman. Mengetahui dan percaya bahwa Yesus telah menyelamatkan kita, itu bukanlah iman. Itu adalah pengetahuan belaka, karena iblis pun tahu dan percaya bahwa Yesus memang telah mati untuk menebus dosa kita. Pelayanan, sebagai aktivitas rutin bukanlah pelayanan sejati jika pusat hidup kita bukan lagi Tuhan. Iman tanpa perbuatan tidak berarti, tetapi perbuatan tanpa iman juga tidak menyelamatkan. Hanya iman yang mengutamakan Yesus lah yang akan menghasilkan buah-buah pelayanan sejati, dan hanya iman itulah yang akan menyelamatkan kita.
Jika iman kita, pusat hidup kita, adalah kekekalan bersama Tuhan, maka segala usaha yang kita lakukan di dunia ini adalah untuk kembali bersama dengan Yesus, untuk memuliakan dan mengutamakan Dia. Segala motivasi, dan pembagian waktu di dalam hidup kita, kita serahkan kepada Tuhan. Tapi bagaimana kita bisa mengetahui apa yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita ? Sebelum kita membagi waktu buat hal-hal yang lain, kita harus memberi waktu khusus untuk berdoa dan meminta bimbingan Tuhan setiap hari. Keputusan kita untuk memberi waktu bagi Tuhan, akan menentukan bagaimana kita membagi waktu kita yang tersisa.
Gordon memulai bukunya dengan dua bab diatas (Motivation & Use of Time), karena memusatkan hidup, pikiran, hati dan tenaga kita kepada Tuhan dengan sepenuhnya adalah sumber dari segala sesuatu.
Wednesday, July 23, 2008
"Is that really you, GOD ?" Part 2: Thumbs up & thumbs down
Saya yakin bahwa setiap dari kita yang telah membaca buku ini menanggapinya dengan perasaan gembira, namun juga kecewa, karena memang pandangan gereja kita banyak yang sangat berbeda dengan pandangan si pengarang. Saya akan mulai dengan hal-hal yang kurang saya setujui:
1. Di dalam beberapa bagian di buku ini, seperti sewaktu mereka berdoa menyesal kepada Allah saat mereka membanggakan kapal mereka lebih dari Tuhan, Loren berkata bahwa Yesus hadir ke tengah-tengah mereka dan mengampuni mereka. Alkitab menyatakan bahwa Yesus telah lahir, mati, bangkit, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Roh Kudus lah yang diutus oleh Allah Bapa dan Anak untuk meneruskan karya keselamatan Yesus. Oleh karena itu, menurut Alkitab dan teologia Tritunggal, Yesus pada jaman sekarang ini tidak akan perlu turun ke dunia karena sudah ada Roh Kudus di dalam hati kita.
2. Suara Allah secara langsung dan pribadi amat sangat dipentingkan dalam buku ini. Ilham utama mereka adalah suara Allah, bukanlah Firman-Nya. Memang di Perjanjian Lama, dan pada awal mula gereja banyak nabi dan rasul yang mendengar suara Allah, tetapi setelah Alkitab tertulis dengan lengkap, maka Alkitab itulah Suara Allah, Firman Allah. Sekali lagi, pengertian Tritunggal dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk melihat hal ini. Tugas kita sewaktu berdoa adalah untuk memasuki hubungan ketiga Pribadi Allah, dan menyatukan keingingan Allah Bapa yang telah dinyatakan oleh Allah Anak, Firman-Nya, dan disaksikan oleh Roh Kudus, dengan keinginan kita di dalam hidup kita masing-masing.
Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa Bapa atau Yesus tidak usah 'langsung berbicara' kepada kita, karena ada Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita, yang akan membimbing kita. Roh Kudus akan membimbing kita untuk mengerti rencana Bapa melalui Alkitab, perkataan saudara seiman, suara hati nurani, dsb. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mempunyai teman saudara seiman yang sejati bukan saja di dalam gereja, tapi juga di luar gereja, yang benar-benar mengetahui situasi kita dalam keluarga dan sekolah, karena 5-6 hari seminggu kita berada ditengah-tengah masyarakat. Bimbingan saudara seiman kita dari luar gereja seringkali bisa lebih membantu hidup kita dalam usaha kita mencari kehendak Tuhan.
3. Mencari kehendak Allah berdasarkan pendegaran suara Allah saja, sangatlah berbahaya, karena di dalam diri kita ada 3 sumber suara, yang memasuki pikiran kita, yang terdengar hanya sebagai 1 suara hati saja. Sumber suara pertama adalah diri kita sendiri, ini adalah "ego" kita yang bersuara sewaktu kita membaca, berpikir, dsb. Sumber suara kedua adalah Allah, yang mengatakan sesuatu melalui suara hati pikiran kita. Tentu saja sumber ketiga adalah iblis. Ketiganya menggunakan suara hati nurani kita untuk berbicara, dan kita sulit untuk membedakan ketiganya itu jika tidak kita uji dengan Firman Tuhan, sebagai kriteria mutlak, yang objective dan external. Oleh karena itu, renungan pagi adalah suatu faktor yang sangat penting dimana kita dilatih untuk mendengar suara Gembala kita melalui refleksi kita akan Alkitab dan kehidupan kita sehari-hari.
Walaupun dalam hal doktrin banyak yang tidak disetujui, ada banyak hal baik yang bisa kita lihat dalam buku Loren ini:
1. Semangat pelayanan Loren sangat sulit ditandingi. Dia memang bertekad untuk melayani apapun juga yang terjadi. Dia tidak pernah berhenti berpikir mengenai pelayanan dan misi penginjilan. Tekad ini memungkinkan dia untuk berhasil dalam banyak hal pelayanannya. Banyak dari kita telah kehilangan semangat itu yang kita dulu rasakan sewaktu lahir baru. Loren dengan banyak doa, telah berhasil memelihara api semangat pelayanan itu.
2. Sebagai pempimpin yang besar, mengepalai begitu banyak orang, dia tidak pernah ragu untuk mengakui kesalahan-kesalahannya di depan umum kepada semua orang. Dia memegang prinsip yang kuat dimana dia percaya bahwa tanpa pengakuan dosa dan pertobatan akan setiap dosa yang telah dia lakukan, baik sadar maupun dengan tidak sengaja, dia tidak akan mendapat bimbingan Tuhan yang benar. Ini hal yang sangat mengagumkan, karena jarang kita lihat seorang pendeta, majelis, atau aktivis gereja yang mengakui dosanya sewaktu bersalah kepada orang lain. Seringkali sapaan saja sudah dianggap seperti minta maaf.
3. Loren siap meninggalkan dan mengorbankan apapun juga untuk mengikuti jalan yang dia imani sebagai jalan Tuhan. Dia pindah kesana kemari, 18 kali dalam setahun, membawa keluarganya, dan setia dalam pelayanan baik di dalam gereja maupun di luar gereja. Dia tidak hanya mengorbankan hal-hal duniawi, tetap sewaktu dia menyadari bahwa program misi dia telah berfokus duniawi untuk mencari dana, nama, dsb, dia berani meninggalkan projek itu untuk memulai sesuatu yang baru, yang dimulai dengan niat yang benar, yaitu memuliakan Tuhan. Dia meletakkan kegiatan gereja dan kehidupan sehari-hari, di dalam konteks memuliakan Tuhan, dan kapanpun Tuhan terlupakan dalam pelayanan mereka, mereka meninggalkannya, minta ampun, dan minta Tuhan untuk membenarkan misi dan visi mereka.
Sekalipun hal ini bersangkutan dengan gereja, tetapi hal ini dapat kita teladani dalam hidup kita masing-masing, dimana apapun yang kita lakukan, maupun pelayanan, haruslah dilaksanakan untuk memuliakan Tuhan saja, bukan untuk bersenang-senang, mencari jodoh, ataupun mengisi waktu luang saja. Ini adalah salah satu hal yang paling sulit untuk kita sadari, karena pelayanan kita memang berada di dunia, bercampur baur dengan keadaan duniawi.
Buku ini telah mengajar kita hal-hal yang baik, dan juga mengajar kita untuk membaca dengan lebih kritis. Tidak setiap buku Kristen akan sesuai dengan ajaran Firman Tuhan yang benar. Keberhasilan seorang 'Kristen' tidak boleh menjadi standard akan kebenaran ajaran mereka, karena banyak pemimpin agama lain yang juga sukses dalam agama mereka. Tetapi ini juga bukan berarti kita tidak dapat belajar dari orang lain. Dengan hati yang takut akan Tuhan kita harus minta hikmat Roh Kudus untuk meneliti dan menguji segala sesuatu yang kita baca. Saya harap, komentar-komentar saya dapat menghimbau yang lain untuk mengutarakan pandangan mereka akan buku ini juga.
1. Di dalam beberapa bagian di buku ini, seperti sewaktu mereka berdoa menyesal kepada Allah saat mereka membanggakan kapal mereka lebih dari Tuhan, Loren berkata bahwa Yesus hadir ke tengah-tengah mereka dan mengampuni mereka. Alkitab menyatakan bahwa Yesus telah lahir, mati, bangkit, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Roh Kudus lah yang diutus oleh Allah Bapa dan Anak untuk meneruskan karya keselamatan Yesus. Oleh karena itu, menurut Alkitab dan teologia Tritunggal, Yesus pada jaman sekarang ini tidak akan perlu turun ke dunia karena sudah ada Roh Kudus di dalam hati kita.
2. Suara Allah secara langsung dan pribadi amat sangat dipentingkan dalam buku ini. Ilham utama mereka adalah suara Allah, bukanlah Firman-Nya. Memang di Perjanjian Lama, dan pada awal mula gereja banyak nabi dan rasul yang mendengar suara Allah, tetapi setelah Alkitab tertulis dengan lengkap, maka Alkitab itulah Suara Allah, Firman Allah. Sekali lagi, pengertian Tritunggal dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk melihat hal ini. Tugas kita sewaktu berdoa adalah untuk memasuki hubungan ketiga Pribadi Allah, dan menyatukan keingingan Allah Bapa yang telah dinyatakan oleh Allah Anak, Firman-Nya, dan disaksikan oleh Roh Kudus, dengan keinginan kita di dalam hidup kita masing-masing.
Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa Bapa atau Yesus tidak usah 'langsung berbicara' kepada kita, karena ada Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita, yang akan membimbing kita. Roh Kudus akan membimbing kita untuk mengerti rencana Bapa melalui Alkitab, perkataan saudara seiman, suara hati nurani, dsb. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mempunyai teman saudara seiman yang sejati bukan saja di dalam gereja, tapi juga di luar gereja, yang benar-benar mengetahui situasi kita dalam keluarga dan sekolah, karena 5-6 hari seminggu kita berada ditengah-tengah masyarakat. Bimbingan saudara seiman kita dari luar gereja seringkali bisa lebih membantu hidup kita dalam usaha kita mencari kehendak Tuhan.
3. Mencari kehendak Allah berdasarkan pendegaran suara Allah saja, sangatlah berbahaya, karena di dalam diri kita ada 3 sumber suara, yang memasuki pikiran kita, yang terdengar hanya sebagai 1 suara hati saja. Sumber suara pertama adalah diri kita sendiri, ini adalah "ego" kita yang bersuara sewaktu kita membaca, berpikir, dsb. Sumber suara kedua adalah Allah, yang mengatakan sesuatu melalui suara hati pikiran kita. Tentu saja sumber ketiga adalah iblis. Ketiganya menggunakan suara hati nurani kita untuk berbicara, dan kita sulit untuk membedakan ketiganya itu jika tidak kita uji dengan Firman Tuhan, sebagai kriteria mutlak, yang objective dan external. Oleh karena itu, renungan pagi adalah suatu faktor yang sangat penting dimana kita dilatih untuk mendengar suara Gembala kita melalui refleksi kita akan Alkitab dan kehidupan kita sehari-hari.
Walaupun dalam hal doktrin banyak yang tidak disetujui, ada banyak hal baik yang bisa kita lihat dalam buku Loren ini:
1. Semangat pelayanan Loren sangat sulit ditandingi. Dia memang bertekad untuk melayani apapun juga yang terjadi. Dia tidak pernah berhenti berpikir mengenai pelayanan dan misi penginjilan. Tekad ini memungkinkan dia untuk berhasil dalam banyak hal pelayanannya. Banyak dari kita telah kehilangan semangat itu yang kita dulu rasakan sewaktu lahir baru. Loren dengan banyak doa, telah berhasil memelihara api semangat pelayanan itu.
2. Sebagai pempimpin yang besar, mengepalai begitu banyak orang, dia tidak pernah ragu untuk mengakui kesalahan-kesalahannya di depan umum kepada semua orang. Dia memegang prinsip yang kuat dimana dia percaya bahwa tanpa pengakuan dosa dan pertobatan akan setiap dosa yang telah dia lakukan, baik sadar maupun dengan tidak sengaja, dia tidak akan mendapat bimbingan Tuhan yang benar. Ini hal yang sangat mengagumkan, karena jarang kita lihat seorang pendeta, majelis, atau aktivis gereja yang mengakui dosanya sewaktu bersalah kepada orang lain. Seringkali sapaan saja sudah dianggap seperti minta maaf.
3. Loren siap meninggalkan dan mengorbankan apapun juga untuk mengikuti jalan yang dia imani sebagai jalan Tuhan. Dia pindah kesana kemari, 18 kali dalam setahun, membawa keluarganya, dan setia dalam pelayanan baik di dalam gereja maupun di luar gereja. Dia tidak hanya mengorbankan hal-hal duniawi, tetap sewaktu dia menyadari bahwa program misi dia telah berfokus duniawi untuk mencari dana, nama, dsb, dia berani meninggalkan projek itu untuk memulai sesuatu yang baru, yang dimulai dengan niat yang benar, yaitu memuliakan Tuhan. Dia meletakkan kegiatan gereja dan kehidupan sehari-hari, di dalam konteks memuliakan Tuhan, dan kapanpun Tuhan terlupakan dalam pelayanan mereka, mereka meninggalkannya, minta ampun, dan minta Tuhan untuk membenarkan misi dan visi mereka.
Sekalipun hal ini bersangkutan dengan gereja, tetapi hal ini dapat kita teladani dalam hidup kita masing-masing, dimana apapun yang kita lakukan, maupun pelayanan, haruslah dilaksanakan untuk memuliakan Tuhan saja, bukan untuk bersenang-senang, mencari jodoh, ataupun mengisi waktu luang saja. Ini adalah salah satu hal yang paling sulit untuk kita sadari, karena pelayanan kita memang berada di dunia, bercampur baur dengan keadaan duniawi.
Buku ini telah mengajar kita hal-hal yang baik, dan juga mengajar kita untuk membaca dengan lebih kritis. Tidak setiap buku Kristen akan sesuai dengan ajaran Firman Tuhan yang benar. Keberhasilan seorang 'Kristen' tidak boleh menjadi standard akan kebenaran ajaran mereka, karena banyak pemimpin agama lain yang juga sukses dalam agama mereka. Tetapi ini juga bukan berarti kita tidak dapat belajar dari orang lain. Dengan hati yang takut akan Tuhan kita harus minta hikmat Roh Kudus untuk meneliti dan menguji segala sesuatu yang kita baca. Saya harap, komentar-komentar saya dapat menghimbau yang lain untuk mengutarakan pandangan mereka akan buku ini juga.
Tuesday, July 22, 2008
"Is that really you, GOD ?" Part 1: Hearing the voice of God
Sepanjang hidup ini, kita harus mengambil banyak keputusan. Semakin penting keputusan itu, semakin kita berhati-hati mempertimbangkannya. Bagaimanakah kita mengetahui apa kehendak Allah dalam hidup kita ? Ini adalah topik yang dibahas oleh Loren Cunningham di dalam buku ini.
Loren memaparkan beberapa cara untuk mengetahui kehendak Tuhan:
1. Berdoa untuk mendengar suara Tuhan
2. Bersekutu bersama dalam gereja untuk mendengar suara Tuhan di dalam hati mereka, kemudian anggota2 gereja tersebut akan menyebut apa yang mereka dengar dari Tuhan ke depan umum.
3. Berdoa kemudian membuka Alkitab tanpa melihatnya terlebih dahulu (supaya Allah yang menunjukkan ayatnya).
Tentu saja banyak hal-hal seperti ini tercatat di dalam Alkitab, tapi apakah hal ini pernah terjadi dalam diri kita ? Apakah kita telah jauh dari Tuhan sehingga kita tidak bisa lagi mendengar suaranya seperti para nabi di jaman dulu ? Mengapa gereja kita tidak pernah meminta dalam doa untuk mendengar suara Allah secara langsung dan nyata ? Bukankah itu lebih baik ?
Memang sungguh mengherankan kisah pelayanan misi Loren yang berdasarkan sepenuhnya atas suara Allah secara langsung yang mereka dengar. Apakah keberhasilan dia itu memang dari Allah ? Atau hanyalah suatu kebetulan saja ? Bagaimana menurut dia ? Bagaimana menurut kalian ?
Loren memaparkan beberapa cara untuk mengetahui kehendak Tuhan:
1. Berdoa untuk mendengar suara Tuhan
2. Bersekutu bersama dalam gereja untuk mendengar suara Tuhan di dalam hati mereka, kemudian anggota2 gereja tersebut akan menyebut apa yang mereka dengar dari Tuhan ke depan umum.
3. Berdoa kemudian membuka Alkitab tanpa melihatnya terlebih dahulu (supaya Allah yang menunjukkan ayatnya).
Tentu saja banyak hal-hal seperti ini tercatat di dalam Alkitab, tapi apakah hal ini pernah terjadi dalam diri kita ? Apakah kita telah jauh dari Tuhan sehingga kita tidak bisa lagi mendengar suaranya seperti para nabi di jaman dulu ? Mengapa gereja kita tidak pernah meminta dalam doa untuk mendengar suara Allah secara langsung dan nyata ? Bukankah itu lebih baik ?
Memang sungguh mengherankan kisah pelayanan misi Loren yang berdasarkan sepenuhnya atas suara Allah secara langsung yang mereka dengar. Apakah keberhasilan dia itu memang dari Allah ? Atau hanyalah suatu kebetulan saja ? Bagaimana menurut dia ? Bagaimana menurut kalian ?
Sunday, July 6, 2008
"When God writes your love story" Part 2: Loving your future spouse by loving your family
Siapaun yang single pasti pernah berpikir: "Siapa yah yang kira2 orangnya itu ... 1. ,2. ,3. ,4. ,5. ... " kemudian list panjang tak terhingga terpikir, seperti makalah yang berjudul "Syarat2 untuk menjadi pasangan hidupku" Tetapi Eric dan Leslie di buku ini mengingatkan kita untuk memikirkan bagaimana kita seharusnya menyiapkan diri sebaik mungkin sehingga kita dapat membahagiakan pasangan hidup kita yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Kita harus mengingat bahwa di suatu tempat, sekarang ini, pasangan hidup kita sudah ada. Mungkin dia sedang berbaring tidur, makan, jalan2, tapi bagaimana kalau dia sedang merokok, atau menikmati hangatnya cinta di ranjang orang lain? Tentu saja kita tidak mau berpikir bahwa calon pasangan hidup kita sedang melakukan hal2 yang akan hanya membawa aib kepada keluarga kita yang sekarang, dan keluarga kita sendiri di masa depan.
Demikian pulalah, setiap orang yang single harus mengingat, bahwa tingkah laku kita sekarang akan dipertangunggjawabkan kepada Tuhan di akhir jaman, tapi juga kepada pasangan hidup kita. Jika seseorang 'mencari jodoh' dengan senonoh, ganti pacar terus, mencari yang 'lebih baik' yang 'lebih cocok', yang lebih 'mapan'. Apakah kita lupa bahwa Tuhan telah menyediakan seseorang bagi kita, yang mungkin tidak 'secocok', 'sepintar', atau 'semapan' yang kita harapkan? Kita harus ingat bahwa kita juga tidak sempurna, dan Tuhan akan sediakan seseorang yang sepadan dengan kita untuk melengkapi kita. Tapi orang itu tidak akan sempurna. Apakah kita ingin menyedihkan teman hidup kita dengan masa lalu kita yang memalukan mengejar sana sini ? Walaupun dia menerima atau tidak tahu akan rahasia lama kita, kita tentu akan merasa sangat bersalah dan sedih, melihat dan menerima dia yang begitu baik, menyayangi kita, sedangkan bayangan masa lampau kita tidak sebanding dengan apa yang dia harapkan, dan apa yang dia berikan pada kita.
Eric mengajukan kita untuk mulai menyiapkan diri kita dengan memperhatikan keluarga kita sendiri. Jika dapat mengasihi, menerima, dan memperhatikan keluarga kita sendiri, kita juga akan bisa memperhatikan pasangan hidup kita di akan datang. Tingkah laku asli seseorang tidak akan kelihatan di sekolah ataupun di gereja, karena semua orang mempunyai topeng sopan santun masing-masing dalam lingkungan masyarakat. Jati diri seseorang hanya kelihatan di dalam rumah sendiri. Jika seseorang tidak mempunyai hidup yang harmonis di dalam keluarganya sendiri, maka sifat orang itu harus dipertanyakan. Tentu saja banyak yang mengatakan bahwa seseorang mengambil keputusannya sendiri, mengambil jati diri sendiri, yang tidak harus selalu cocok dengan keluarganya.
Tapi dari sejak jaman dulu, di timur, Kong Hu Cu di Analects nya menulis: "Seorang remaja, di rumah, harus berbakti pada orang tuanya, dan di luar, harus menghormati yang lebih tua. Dia harus tulus dan jujur. Dia harus penuh dengan kasih terhadap semua orang, dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama."
Kong Hu Cu dari jaman sebelum Kristus datang juga tahu akan hal ini. Menghormati orang tua, berbakti pada orang tua mempunyai arti yang sangat dalam, karena berbakti itu bukan hanya menuruti aturan tata krama, tetapi juga diiringi dengan kasih sayang. Terjamahan bahasa Indonesia akan Analaects Kong Hu Cu bagus sekali dengan menggunakan kata 'berbakti'. Kata 'bhakti' itu dari bahasa Sansekerta yang hampir setara dengan 'agape' dalam bahasa Yunani, dimana kasih membawa kejujuran, ketaatan, kesetiaan, dan juga sopan santun.
Sebagai pasangan Kristen yang baik, Eric dan Leslie disini jelas melibatkan orang tua dalam jalan hidup mereka bersama dari berteman sampai berkeluarga. Mereka bergumul untuk menjadi akur dengan keluarga mereka sebelum menginjak jalan hidup mereka masing-masing.
Sistem tata-krama Cina yang berdasarkan pemikiran Kong Hu Cu itu menaruh kasih sayang keluarga sebagai dasar segala dasar. Keluarga yang harmonis akan mempersiapkan setiap orang untuk menjalin hubungan yang harmonis dalam dunia kerja. Keharmonisan dalam dunia kerja dan masyarakat memungkinkan ketertiban dan kesejahteraan negara. Kong Hu Cu tidak pernah berani mengutarakan ajaran agama, tetapi dia tahu bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting.
Sebagai orang Kristen, kita harus ingat bahwa ajaran Kong Hu Cu benar, karena dengan menghormati orang tua, kita telah menghormati wakil Allah di dunia ini. Dengan mendengar, mengenal, mentaati, mengasihi dan berbakti pada orang tua, kita telah mengitkuti jejak dan rambu-rambu yang Tuhan sediakan buat kita di dunia ini sejak kecil.
Jadi, bagi yang masih single, kita harus mengingat apa yang buku ini anjurkan, yaitu mengigat calon pasangan hidup kita, dan mempersiapkan diri baginya. Kita bisa mulai proses persiapan ini dari keluarga dulu, baru ke gereja, ke masyarakat, sampai akhirnya Tuhan temukan kita dengan si dia.
Demikian pulalah, setiap orang yang single harus mengingat, bahwa tingkah laku kita sekarang akan dipertangunggjawabkan kepada Tuhan di akhir jaman, tapi juga kepada pasangan hidup kita. Jika seseorang 'mencari jodoh' dengan senonoh, ganti pacar terus, mencari yang 'lebih baik' yang 'lebih cocok', yang lebih 'mapan'. Apakah kita lupa bahwa Tuhan telah menyediakan seseorang bagi kita, yang mungkin tidak 'secocok', 'sepintar', atau 'semapan' yang kita harapkan? Kita harus ingat bahwa kita juga tidak sempurna, dan Tuhan akan sediakan seseorang yang sepadan dengan kita untuk melengkapi kita. Tapi orang itu tidak akan sempurna. Apakah kita ingin menyedihkan teman hidup kita dengan masa lalu kita yang memalukan mengejar sana sini ? Walaupun dia menerima atau tidak tahu akan rahasia lama kita, kita tentu akan merasa sangat bersalah dan sedih, melihat dan menerima dia yang begitu baik, menyayangi kita, sedangkan bayangan masa lampau kita tidak sebanding dengan apa yang dia harapkan, dan apa yang dia berikan pada kita.
Eric mengajukan kita untuk mulai menyiapkan diri kita dengan memperhatikan keluarga kita sendiri. Jika dapat mengasihi, menerima, dan memperhatikan keluarga kita sendiri, kita juga akan bisa memperhatikan pasangan hidup kita di akan datang. Tingkah laku asli seseorang tidak akan kelihatan di sekolah ataupun di gereja, karena semua orang mempunyai topeng sopan santun masing-masing dalam lingkungan masyarakat. Jati diri seseorang hanya kelihatan di dalam rumah sendiri. Jika seseorang tidak mempunyai hidup yang harmonis di dalam keluarganya sendiri, maka sifat orang itu harus dipertanyakan. Tentu saja banyak yang mengatakan bahwa seseorang mengambil keputusannya sendiri, mengambil jati diri sendiri, yang tidak harus selalu cocok dengan keluarganya.
Tapi dari sejak jaman dulu, di timur, Kong Hu Cu di Analects nya menulis: "Seorang remaja, di rumah, harus berbakti pada orang tuanya, dan di luar, harus menghormati yang lebih tua. Dia harus tulus dan jujur. Dia harus penuh dengan kasih terhadap semua orang, dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama."
Kong Hu Cu dari jaman sebelum Kristus datang juga tahu akan hal ini. Menghormati orang tua, berbakti pada orang tua mempunyai arti yang sangat dalam, karena berbakti itu bukan hanya menuruti aturan tata krama, tetapi juga diiringi dengan kasih sayang. Terjamahan bahasa Indonesia akan Analaects Kong Hu Cu bagus sekali dengan menggunakan kata 'berbakti'. Kata 'bhakti' itu dari bahasa Sansekerta yang hampir setara dengan 'agape' dalam bahasa Yunani, dimana kasih membawa kejujuran, ketaatan, kesetiaan, dan juga sopan santun.
Sebagai pasangan Kristen yang baik, Eric dan Leslie disini jelas melibatkan orang tua dalam jalan hidup mereka bersama dari berteman sampai berkeluarga. Mereka bergumul untuk menjadi akur dengan keluarga mereka sebelum menginjak jalan hidup mereka masing-masing.
Sistem tata-krama Cina yang berdasarkan pemikiran Kong Hu Cu itu menaruh kasih sayang keluarga sebagai dasar segala dasar. Keluarga yang harmonis akan mempersiapkan setiap orang untuk menjalin hubungan yang harmonis dalam dunia kerja. Keharmonisan dalam dunia kerja dan masyarakat memungkinkan ketertiban dan kesejahteraan negara. Kong Hu Cu tidak pernah berani mengutarakan ajaran agama, tetapi dia tahu bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting.
Sebagai orang Kristen, kita harus ingat bahwa ajaran Kong Hu Cu benar, karena dengan menghormati orang tua, kita telah menghormati wakil Allah di dunia ini. Dengan mendengar, mengenal, mentaati, mengasihi dan berbakti pada orang tua, kita telah mengitkuti jejak dan rambu-rambu yang Tuhan sediakan buat kita di dunia ini sejak kecil.
Jadi, bagi yang masih single, kita harus mengingat apa yang buku ini anjurkan, yaitu mengigat calon pasangan hidup kita, dan mempersiapkan diri baginya. Kita bisa mulai proses persiapan ini dari keluarga dulu, baru ke gereja, ke masyarakat, sampai akhirnya Tuhan temukan kita dengan si dia.
Friday, July 4, 2008
"When God writes your love story" Part 1: Saving yourself for marriage
GII Summer Book Review group telah memilih beberapa buku untuk dibahas, dan salah satunya adalah "When God writes your love story". Ini adalah buku yang ditulis oleh sepasang suami istri Kristen: Eric dan Leslie Ludy. Buku ini adalah kisah hidup mereka dalam dunia pacaran dari sebelum mereka bertemu, sampai setelah mereka menikah.
Eric memulai buku ini dengan waktu pertama dia menyerahkan nasib jalan cinta dia kepada Tuhan. Dia memberanikan diri di depan teman2nya untuk mengatakan bahwa dia telah berserah kepada Tuhan sepenuhnya, sehingga pacarnya yang akan datang itu pasti adalah calon istri yang disediakan Tuhan. Ini adalah iman yang dia yakini agar dia tidak asal ganti pacar lagi.
Tidak disangka, dalam bab ke dua, Eric sudah menyinggung hal keperawanan yang paling sering diabaikan di dalam gereja karena topiknya memang bisa tidak mengenakkan. Setelah membaca stengah buku ini, memang jelas, bahwa salah satu pesan si pengarang adalah untuk menjaga kesucian pranikah.
Pengarang buku ini masing-masing menceritakan pergumulan, beban dan godaan mereka sebelum pernikahan. Mereka mengingatkan kita semua untuk menyerahkan diri kepada Tuhan agar kita dapat merasakan kasih Allah dan dapat mengasihiNya kembali. Jika kita mengasihi Allah lebih dari apapun juga, kita tidak akan jatuh kedalam kuasa daging. Yang terpenting adalah penyerahan diri dalam kasih bukan hanya sekedar mematuhi 'hukum' dan 'aturan' Kristen saja. Usaha untuk menjalani hukum dan aturan tidak akan kuat untuksenantiasa menahan pasangan yang berpacaran; jika lengah, jika terlupa, jika kita mencoba untuk melonggarkan aturan2 itu, kita dapat saja jatuh dalam dosa. Aturan akan mudah terlupakan sewaktu kita ada dalam pelukan si kekasih, beribu kasus perkecualian dan rasionalisasi akan terpikir sewaktu kita hendak menjadi lebih dekat dengan kekasih kita.
Jadi, bagaimanakah kita dapat mengasihi Allah sedemikian rupa sampai keinginan daging kita mati ? Manusia kan tidak sempurna ? Bisa saja dalam sejenak, kita terlupa akan Allah, dan terlanjur. Jika demikian, apakah yang harus kita lakukan untuk menjaga kesucian ini ? Buat si pengarang, mereka selalu mengingatkan, bahwa jika kita berhubungan dengan seseorang sebelum nikah, berarti kita telah berhubungan dengan semua orang yang telah berhubungan dengan dia sebelum bertemu kita (jika dia tidak suci), dan orang lain di masa depan jika kita putus dengannya. Terlebih dari itu, kita telah menyakiti calon pasangan hidup kita, karena mereka akan selalu terpikir akan mantan-mantan kita.
Alkitab, orang tua dan gereja telah jelas memberitahu kita akan semua hal ini, sekarang kita harus dapat menjalaninya dalam kasus yang berbeda2, supaya tidak hanya sekedar teori dan 'perintah' dalam hati kita. Saya yakin bahwa teman-teman kita, baik Kristen ataupun non-Kristen, pernah melontarkan beberapa pertanyaan dibawah ini:
1. Bagaimanakah kita dapat menjaga kesucian jika kita yakin bahwa pacar kita itu adalah teman hidup kita yang Tuhan sediakan? Dimana letaknya batas interaksi fisik itu ? dengan pegangan tangan ? pelukan ? ciuman ? cium dimana ? Atau kita telah menanyakan pertanyaan2 yang salah ?
2. Jika kasih itu tanpa syarat, mengapa keperawanan menjadi syarat ? Bukankah pernikahan itu hanyalah janji yang kita tunjukkan didepan umum untuk hidup bersama dalam suka dan duka ? Jadi bukankah pernikahan berarti tidak ada hubungannya dengan sex, karena sex hanyalah kegiatan fisik, sama seperti bergandengan tangan, bermain bersama, berpelukan, dsb.
3. Jika seorang yang kita temukan sudah kehilangan kesuciannya, apakah yang kita lakukan ? Apakah itu tanda bahwa dia bukan dari Tuhan karena Tuhan pasti menyediakan yang terbaik bagi kita ? atau apakah itu tanda bahwa kita harus belajar mengampuni, menerima dan mengasihi tanpa syarat ?
4. Jika kita sendiri telah jatuh dalam dosa ini, apakah yang harus kita lakukan ? Apakah kita harus menikahinya karena telah berhubungan dengannya ? Jika tidak, apakah kita layak untuk mendapat seseorang yang telah menjaga kesuciannya bagi kita ?
5. Apakah ini semua hanyalah adat istiadat dari jaman para penulis Alkitab ? Di Alkitab juga banyak tertulis adat-adat yang kita tidak ikuti lagi sekarang, seperti pantangan makanan, dan cara beribadah di Bait Allah. Bukankah di Alkitab memang dapat kita temukan adat istiadat dan Firman Allah ? Bagaimanakah dengan kesucian pranikah ini ?
Eric memulai buku ini dengan waktu pertama dia menyerahkan nasib jalan cinta dia kepada Tuhan. Dia memberanikan diri di depan teman2nya untuk mengatakan bahwa dia telah berserah kepada Tuhan sepenuhnya, sehingga pacarnya yang akan datang itu pasti adalah calon istri yang disediakan Tuhan. Ini adalah iman yang dia yakini agar dia tidak asal ganti pacar lagi.
Tidak disangka, dalam bab ke dua, Eric sudah menyinggung hal keperawanan yang paling sering diabaikan di dalam gereja karena topiknya memang bisa tidak mengenakkan. Setelah membaca stengah buku ini, memang jelas, bahwa salah satu pesan si pengarang adalah untuk menjaga kesucian pranikah.
Pengarang buku ini masing-masing menceritakan pergumulan, beban dan godaan mereka sebelum pernikahan. Mereka mengingatkan kita semua untuk menyerahkan diri kepada Tuhan agar kita dapat merasakan kasih Allah dan dapat mengasihiNya kembali. Jika kita mengasihi Allah lebih dari apapun juga, kita tidak akan jatuh kedalam kuasa daging. Yang terpenting adalah penyerahan diri dalam kasih bukan hanya sekedar mematuhi 'hukum' dan 'aturan' Kristen saja. Usaha untuk menjalani hukum dan aturan tidak akan kuat untuksenantiasa menahan pasangan yang berpacaran; jika lengah, jika terlupa, jika kita mencoba untuk melonggarkan aturan2 itu, kita dapat saja jatuh dalam dosa. Aturan akan mudah terlupakan sewaktu kita ada dalam pelukan si kekasih, beribu kasus perkecualian dan rasionalisasi akan terpikir sewaktu kita hendak menjadi lebih dekat dengan kekasih kita.
Jadi, bagaimanakah kita dapat mengasihi Allah sedemikian rupa sampai keinginan daging kita mati ? Manusia kan tidak sempurna ? Bisa saja dalam sejenak, kita terlupa akan Allah, dan terlanjur. Jika demikian, apakah yang harus kita lakukan untuk menjaga kesucian ini ? Buat si pengarang, mereka selalu mengingatkan, bahwa jika kita berhubungan dengan seseorang sebelum nikah, berarti kita telah berhubungan dengan semua orang yang telah berhubungan dengan dia sebelum bertemu kita (jika dia tidak suci), dan orang lain di masa depan jika kita putus dengannya. Terlebih dari itu, kita telah menyakiti calon pasangan hidup kita, karena mereka akan selalu terpikir akan mantan-mantan kita.
Alkitab, orang tua dan gereja telah jelas memberitahu kita akan semua hal ini, sekarang kita harus dapat menjalaninya dalam kasus yang berbeda2, supaya tidak hanya sekedar teori dan 'perintah' dalam hati kita. Saya yakin bahwa teman-teman kita, baik Kristen ataupun non-Kristen, pernah melontarkan beberapa pertanyaan dibawah ini:
1. Bagaimanakah kita dapat menjaga kesucian jika kita yakin bahwa pacar kita itu adalah teman hidup kita yang Tuhan sediakan? Dimana letaknya batas interaksi fisik itu ? dengan pegangan tangan ? pelukan ? ciuman ? cium dimana ? Atau kita telah menanyakan pertanyaan2 yang salah ?
2. Jika kasih itu tanpa syarat, mengapa keperawanan menjadi syarat ? Bukankah pernikahan itu hanyalah janji yang kita tunjukkan didepan umum untuk hidup bersama dalam suka dan duka ? Jadi bukankah pernikahan berarti tidak ada hubungannya dengan sex, karena sex hanyalah kegiatan fisik, sama seperti bergandengan tangan, bermain bersama, berpelukan, dsb.
3. Jika seorang yang kita temukan sudah kehilangan kesuciannya, apakah yang kita lakukan ? Apakah itu tanda bahwa dia bukan dari Tuhan karena Tuhan pasti menyediakan yang terbaik bagi kita ? atau apakah itu tanda bahwa kita harus belajar mengampuni, menerima dan mengasihi tanpa syarat ?
4. Jika kita sendiri telah jatuh dalam dosa ini, apakah yang harus kita lakukan ? Apakah kita harus menikahinya karena telah berhubungan dengannya ? Jika tidak, apakah kita layak untuk mendapat seseorang yang telah menjaga kesuciannya bagi kita ?
5. Apakah ini semua hanyalah adat istiadat dari jaman para penulis Alkitab ? Di Alkitab juga banyak tertulis adat-adat yang kita tidak ikuti lagi sekarang, seperti pantangan makanan, dan cara beribadah di Bait Allah. Bukankah di Alkitab memang dapat kita temukan adat istiadat dan Firman Allah ? Bagaimanakah dengan kesucian pranikah ini ?
Subscribe to:
Posts (Atom)