
Di San Francisco baru saja disahkan pernikahan pasangan homosexual. Maka homosexuality adalah topik yang harus ditinjau kembali dari banyak segi, jika kita hendak hidup sebagai orang Kristen yang bermasyarakat. Homosexualitas adalah megenai seseorang, maka mencakup aspek biologis, sosial, psikologis, rohani, dsb. Pandangan orang terhadap homosexualitas mempunyai sejarah yang cukup panjang, berayun antara negative dan positive, antara natur dan pilihan, antara benar dan salah.
Pada tahun 1940an, homosexualitas tidak lagi dianggap sebagai dosa atau kejahatan kriminal seperti pada abad sebelumnya, tapi homosexualitas dianggap sebagai gangguan jiwa setara dengan schizophrenia, hysteria, paranoia, dll. Maka homosexualitas ada di dalam manual DSM yang dipakai para psikolog untuk mendiagnose penyakit jiwa. Pada tahun 1950an, Evelyn Hooker dari Chicago University memulai beberapa experiment untuk meneliti perbedaan antara orang heterosexual dengan homosexual.

Mereka memberi Rorschach test, dimana setiap orang ditanya akan apa yang mereka lihat dari gambar2 seperti diatas ini. Mereka berharap untuk dapat menemukan perbedaan dari jawaban antara orang yang homosexual dan heterosexual. Ternyata mereka gagal. Experiment2 psikologis terus dilanjutkan sejak penemuan ini, dan akhirnya pada tahun 1973, para psikolog menyatakan bahwa homosexualitas itu bukanlah kelainan jiwa, dan homosexualitas dikeluarkan dari DSM mereka.Terjadilah perubahan pandangan terhadap homosexualitas dari psikologis ke biologis. Pada tahun 1960an, orang mulai berpikir bahwa mungkin penyebab fenomena ini adalah hormon. Geoffery Harris dari Oxford menunjukkan bahwa tikus jantan yang kekurangan testosterone akan mengalami perubahan fisik yang menyerupai tikus betina yang dalam siklus menstruasinya. Maka Harris menyatakan bahwa dalam 5 hari pertama, jika seeokor tikus jantan kekurangan hormon testosterone, maka tikus itu akan menjadi seperti tikus betina. Roger Gorski dari UCLA menunjukkan bahwa tikus jantan yang kekurangan testosterone dan disuntik hormon estrogen, menunggingkan pantatnya terhadap tikus jantan yang tidak kekurangan testosterone seperti minta kawin. Terlebih lagi, tikus betina yang disuntik hormon testosterone menunggangi tikus betina yang lainnya.

Jika hormon mempunyai pengaruh yang begitu besar dalam sexual orientation tikus, apakah hal yang sama dapat ditemukan di manusia? Pada tahun 1984, John Money dari Johns Hopkins menunjukkan bahwa ternyata memang sewaktu wanita kebanyakan hormon testerone (dalam kasus dimana mereka terkena CAH - congenital adrenal hyperplasia), banyak dari mereka yang menjadi lesbian. Hal ini menyebabkan banyak orang homosexual yang dianjurkan mengikuti terapi hormon.
Pada waktu yang hampir bersamaan dengan para endocrinolog, anatomist banyak yang menspekulasikan bahwa karena semua apa yang kita pikirkan itu tergantung dari otak, maka pasti ada perbedaan struktur otak yang berbeda antara pria dan wanita. Struktur otak pria homosexual diperkirakan akan serupa dengan struktuk otak wanita. Pertama, ditemukan memang ada perbedaan antara otak pria dan wanita, yang disebut dengan Sexual Dimorphic Nucleus (SDN), yang aktif sewaktu seseorang berpikir tentang sex. (titik hijau digambar ini)

Memang SDN lebih besar di pria daripada wanita, yang menganjurkan bahwa inilah yang menyebabkan pria lebih sexual daripada wanita. Semenjak pemenuan SDN oleh Dick Swaab dari Belanda pada tahun 1980an, beberapa penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pria homosexual ternyata mempunyai SDN yang lebih besar daripada pria heterosexual.
Dari yang kita lihat sepanjang ini, maka homosexualitas dapat dijelaskan dari sudut anatomis otak dan juga level hormon. Pada tahun 1990an, Richard Pillard dari Boston University mulai menyelidiki apa ada perbedaan orang homosexual dengan heterosexual, dan menyatakan bahwa 70% dapat dijelaskan dari genetics nya, tapi tidak 100% disebabkan oleh genetics. Sisa 30%nya itu tergantung pada faktor-faktor yang telah kita bahas tadi, pengaruh linkungan / psikologis, dan hormon.

Setiap penemuan akan perbedaan antara orang heterosexual dan homosexual ditemukan, selalu ada penemuan yang menyatakan bahwa perbedaan itu salah. Baik itu perbedaan psikologis, anatomis ataupun hormon. Tapi yang jelas dari penemuan genetics ini, adalah bahwa seseorang tidak 100% tergantung pada genetics.
Setelah membaca semua ini, banyak pertanyaan di pikiran kalian yang mungkin telah terjawab, tapi saya akan mengajukan beberapa pertanyaan lagi:
1. Apakah ini berarti bahwa kita harus menganggap orang homosexual itu 'sakit' atau ada 'kelainan' ? Tapi, bukankah setiap orang mempunyai level hormon dan struktur anatomis yang berbeda2 yang menyebabkan variasi, dimana ada pria yang lebih feminin. dan ada wanita yang lebih maskulin.
2. Dimanakah harus kita tarik garis yang memisahkan level hormon seorang yang homosexual dengan yang heterosexual?
3. Dimanakah harus kita tarik garis yang memisahkan ukutan bagian otak tertentu antara orang homosexual dan heterosexual?
4. Dimanakah harus ditarik garis antara variasi genetics normal, dengan variasi genetics yang dianggap sebagai penyakit turunan ?
5. Faktor manakah yang harus 'disalahkan' sampai seseorang 'menjadi' gay ? Atau pertanyaan ini sama sekali tidak bisa ditanyakan sama sekali?
6. Jika seorang homosexual hendak diobati dengan hormon terapi, dsb, dimanakah harus kita tarik garis antara orang yang 'sakit' dan orang biasa hanya memiliki variasi biologis / psikologis biasa ? Seseorang bisa saja pemarah, tapi tidak gila. Seseorang bisa saja halus, lemah lembut, suka masak, tapi bukan gay.