Siapaun yang single pasti pernah berpikir: "Siapa yah yang kira2 orangnya itu ... 1. ,2. ,3. ,4. ,5. ... " kemudian list panjang tak terhingga terpikir, seperti makalah yang berjudul "Syarat2 untuk menjadi pasangan hidupku" Tetapi Eric dan Leslie di buku ini mengingatkan kita untuk memikirkan bagaimana kita seharusnya menyiapkan diri sebaik mungkin sehingga kita dapat membahagiakan pasangan hidup kita yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Kita harus mengingat bahwa di suatu tempat, sekarang ini, pasangan hidup kita sudah ada. Mungkin dia sedang berbaring tidur, makan, jalan2, tapi bagaimana kalau dia sedang merokok, atau menikmati hangatnya cinta di ranjang orang lain? Tentu saja kita tidak mau berpikir bahwa calon pasangan hidup kita sedang melakukan hal2 yang akan hanya membawa aib kepada keluarga kita yang sekarang, dan keluarga kita sendiri di masa depan.
Demikian pulalah, setiap orang yang single harus mengingat, bahwa tingkah laku kita sekarang akan dipertangunggjawabkan kepada Tuhan di akhir jaman, tapi juga kepada pasangan hidup kita. Jika seseorang 'mencari jodoh' dengan senonoh, ganti pacar terus, mencari yang 'lebih baik' yang 'lebih cocok', yang lebih 'mapan'. Apakah kita lupa bahwa Tuhan telah menyediakan seseorang bagi kita, yang mungkin tidak 'secocok', 'sepintar', atau 'semapan' yang kita harapkan? Kita harus ingat bahwa kita juga tidak sempurna, dan Tuhan akan sediakan seseorang yang sepadan dengan kita untuk melengkapi kita. Tapi orang itu tidak akan sempurna. Apakah kita ingin menyedihkan teman hidup kita dengan masa lalu kita yang memalukan mengejar sana sini ? Walaupun dia menerima atau tidak tahu akan rahasia lama kita, kita tentu akan merasa sangat bersalah dan sedih, melihat dan menerima dia yang begitu baik, menyayangi kita, sedangkan bayangan masa lampau kita tidak sebanding dengan apa yang dia harapkan, dan apa yang dia berikan pada kita.
Eric mengajukan kita untuk mulai menyiapkan diri kita dengan memperhatikan keluarga kita sendiri. Jika dapat mengasihi, menerima, dan memperhatikan keluarga kita sendiri, kita juga akan bisa memperhatikan pasangan hidup kita di akan datang. Tingkah laku asli seseorang tidak akan kelihatan di sekolah ataupun di gereja, karena semua orang mempunyai topeng sopan santun masing-masing dalam lingkungan masyarakat. Jati diri seseorang hanya kelihatan di dalam rumah sendiri. Jika seseorang tidak mempunyai hidup yang harmonis di dalam keluarganya sendiri, maka sifat orang itu harus dipertanyakan. Tentu saja banyak yang mengatakan bahwa seseorang mengambil keputusannya sendiri, mengambil jati diri sendiri, yang tidak harus selalu cocok dengan keluarganya.
Tapi dari sejak jaman dulu, di timur, Kong Hu Cu di Analects nya menulis: "Seorang remaja, di rumah, harus berbakti pada orang tuanya, dan di luar, harus menghormati yang lebih tua. Dia harus tulus dan jujur. Dia harus penuh dengan kasih terhadap semua orang, dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama."
Kong Hu Cu dari jaman sebelum Kristus datang juga tahu akan hal ini. Menghormati orang tua, berbakti pada orang tua mempunyai arti yang sangat dalam, karena berbakti itu bukan hanya menuruti aturan tata krama, tetapi juga diiringi dengan kasih sayang. Terjamahan bahasa Indonesia akan Analaects Kong Hu Cu bagus sekali dengan menggunakan kata 'berbakti'. Kata 'bhakti' itu dari bahasa Sansekerta yang hampir setara dengan 'agape' dalam bahasa Yunani, dimana kasih membawa kejujuran, ketaatan, kesetiaan, dan juga sopan santun.
Sebagai pasangan Kristen yang baik, Eric dan Leslie disini jelas melibatkan orang tua dalam jalan hidup mereka bersama dari berteman sampai berkeluarga. Mereka bergumul untuk menjadi akur dengan keluarga mereka sebelum menginjak jalan hidup mereka masing-masing.
Sistem tata-krama Cina yang berdasarkan pemikiran Kong Hu Cu itu menaruh kasih sayang keluarga sebagai dasar segala dasar. Keluarga yang harmonis akan mempersiapkan setiap orang untuk menjalin hubungan yang harmonis dalam dunia kerja. Keharmonisan dalam dunia kerja dan masyarakat memungkinkan ketertiban dan kesejahteraan negara. Kong Hu Cu tidak pernah berani mengutarakan ajaran agama, tetapi dia tahu bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting.
Sebagai orang Kristen, kita harus ingat bahwa ajaran Kong Hu Cu benar, karena dengan menghormati orang tua, kita telah menghormati wakil Allah di dunia ini. Dengan mendengar, mengenal, mentaati, mengasihi dan berbakti pada orang tua, kita telah mengitkuti jejak dan rambu-rambu yang Tuhan sediakan buat kita di dunia ini sejak kecil.
Jadi, bagi yang masih single, kita harus mengingat apa yang buku ini anjurkan, yaitu mengigat calon pasangan hidup kita, dan mempersiapkan diri baginya. Kita bisa mulai proses persiapan ini dari keluarga dulu, baru ke gereja, ke masyarakat, sampai akhirnya Tuhan temukan kita dengan si dia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment