GII Summer Book Review group telah memilih beberapa buku untuk dibahas, dan salah satunya adalah "When God writes your love story". Ini adalah buku yang ditulis oleh sepasang suami istri Kristen: Eric dan Leslie Ludy. Buku ini adalah kisah hidup mereka dalam dunia pacaran dari sebelum mereka bertemu, sampai setelah mereka menikah.
Eric memulai buku ini dengan waktu pertama dia menyerahkan nasib jalan cinta dia kepada Tuhan. Dia memberanikan diri di depan teman2nya untuk mengatakan bahwa dia telah berserah kepada Tuhan sepenuhnya, sehingga pacarnya yang akan datang itu pasti adalah calon istri yang disediakan Tuhan. Ini adalah iman yang dia yakini agar dia tidak asal ganti pacar lagi.
Tidak disangka, dalam bab ke dua, Eric sudah menyinggung hal keperawanan yang paling sering diabaikan di dalam gereja karena topiknya memang bisa tidak mengenakkan. Setelah membaca stengah buku ini, memang jelas, bahwa salah satu pesan si pengarang adalah untuk menjaga kesucian pranikah.
Pengarang buku ini masing-masing menceritakan pergumulan, beban dan godaan mereka sebelum pernikahan. Mereka mengingatkan kita semua untuk menyerahkan diri kepada Tuhan agar kita dapat merasakan kasih Allah dan dapat mengasihiNya kembali. Jika kita mengasihi Allah lebih dari apapun juga, kita tidak akan jatuh kedalam kuasa daging. Yang terpenting adalah penyerahan diri dalam kasih bukan hanya sekedar mematuhi 'hukum' dan 'aturan' Kristen saja. Usaha untuk menjalani hukum dan aturan tidak akan kuat untuksenantiasa menahan pasangan yang berpacaran; jika lengah, jika terlupa, jika kita mencoba untuk melonggarkan aturan2 itu, kita dapat saja jatuh dalam dosa. Aturan akan mudah terlupakan sewaktu kita ada dalam pelukan si kekasih, beribu kasus perkecualian dan rasionalisasi akan terpikir sewaktu kita hendak menjadi lebih dekat dengan kekasih kita.
Jadi, bagaimanakah kita dapat mengasihi Allah sedemikian rupa sampai keinginan daging kita mati ? Manusia kan tidak sempurna ? Bisa saja dalam sejenak, kita terlupa akan Allah, dan terlanjur. Jika demikian, apakah yang harus kita lakukan untuk menjaga kesucian ini ? Buat si pengarang, mereka selalu mengingatkan, bahwa jika kita berhubungan dengan seseorang sebelum nikah, berarti kita telah berhubungan dengan semua orang yang telah berhubungan dengan dia sebelum bertemu kita (jika dia tidak suci), dan orang lain di masa depan jika kita putus dengannya. Terlebih dari itu, kita telah menyakiti calon pasangan hidup kita, karena mereka akan selalu terpikir akan mantan-mantan kita.
Alkitab, orang tua dan gereja telah jelas memberitahu kita akan semua hal ini, sekarang kita harus dapat menjalaninya dalam kasus yang berbeda2, supaya tidak hanya sekedar teori dan 'perintah' dalam hati kita. Saya yakin bahwa teman-teman kita, baik Kristen ataupun non-Kristen, pernah melontarkan beberapa pertanyaan dibawah ini:
1. Bagaimanakah kita dapat menjaga kesucian jika kita yakin bahwa pacar kita itu adalah teman hidup kita yang Tuhan sediakan? Dimana letaknya batas interaksi fisik itu ? dengan pegangan tangan ? pelukan ? ciuman ? cium dimana ? Atau kita telah menanyakan pertanyaan2 yang salah ?
2. Jika kasih itu tanpa syarat, mengapa keperawanan menjadi syarat ? Bukankah pernikahan itu hanyalah janji yang kita tunjukkan didepan umum untuk hidup bersama dalam suka dan duka ? Jadi bukankah pernikahan berarti tidak ada hubungannya dengan sex, karena sex hanyalah kegiatan fisik, sama seperti bergandengan tangan, bermain bersama, berpelukan, dsb.
3. Jika seorang yang kita temukan sudah kehilangan kesuciannya, apakah yang kita lakukan ? Apakah itu tanda bahwa dia bukan dari Tuhan karena Tuhan pasti menyediakan yang terbaik bagi kita ? atau apakah itu tanda bahwa kita harus belajar mengampuni, menerima dan mengasihi tanpa syarat ?
4. Jika kita sendiri telah jatuh dalam dosa ini, apakah yang harus kita lakukan ? Apakah kita harus menikahinya karena telah berhubungan dengannya ? Jika tidak, apakah kita layak untuk mendapat seseorang yang telah menjaga kesuciannya bagi kita ?
5. Apakah ini semua hanyalah adat istiadat dari jaman para penulis Alkitab ? Di Alkitab juga banyak tertulis adat-adat yang kita tidak ikuti lagi sekarang, seperti pantangan makanan, dan cara beribadah di Bait Allah. Bukankah di Alkitab memang dapat kita temukan adat istiadat dan Firman Allah ? Bagaimanakah dengan kesucian pranikah ini ?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment