Menjelang Jumat Agung, saya sekarang teringat akan gambaran-gambaran dari film Passion of the Christ. Saya selalu berpikir, bisakah seseorang menahan sakit yang begitu sadis seperti Yesus? Bagaimana rasanya jika syaraf-syaraf di kulit kita saking terangsangnya kesakitan, rusak dan putus semua? Saya teringat dimana ketiga prajurit mulai menghayunkan tangan mereka ke belakang.. cemeti panjang berduri berhelak ke udara seperti ular hitam yang hendak menyambar .. lalu terdengarlah bunyi membelah udara, mendengung tajam. Bunyi cemeti telah melanggar daging ... menghancurkannya... bertetesan dengan darah. Jeritan melengking tajam yang hampir tak bersuara akan seorang tak berdosa menusuk hatiku, seorang berdosa.
Seringkali saya merasa seperti orang baik yang tidak pernah berbuat jahat seperti membunuh atau mencuri, pergi ke gereja beribadah setiap minggu, sering membaca dan mempelajari Alkitab. Tapi gambaran Yesus yang begitu kesakitan tersiksa dibawah hukuman yang seharusnya milik ku, selalu membimbangkan imanku. Tampang yang kumiliki lebih menyerupai orang-orang Farisi yang baik. Tetapi seruan Yesus yang pertama di atas kayu salib yang mengampuniku, menunjukkan bahwa pasti aku adalah orang yang paling berdosa, dan buta akan kebenaran. Gambar dan rupa Allah yang semula itu pasti sudah sangat tercemar, kalau manusia sampai bisa menyalibkan Allah-nya sendiri.
Benarkah saya akan masuk surga ? apakah percaya saja cukup untuk menyelamatkan saya? bagaimana bisa tau kalau ajaran gereja kita itu benar akan keselamatan ? berdasarkan Alkitab ? tapi denominasi lain, orang Katolik dan Orthodox juga memakai Alkitab, bahkan orang Farisi pun memakai Alkitab. Yesus disalib oleh para ahli agama pada jaman itu. Para ahli agama itu begitu yakin dalam doktrin ajaran dan interpretasi Alkitab sampai mereka yakin bahwa Yesus salah, dan merasa terancam akan 'ajaran sesat' Yesus.
Dalam bukunya "The Crucified God", Jurgen Moltmann mengatakan bahwa kebimbangan dalam iman itu perlu, agar kita tidak menjadi sombong dalam rohani dan buta akan kebenaran. Kita harus selalu mengoreksi apa yang kita imani. Jika tidak ada kebimbangan dan takut akan Tuhan, maka iman kita tidak akan pernah bisa bertumbuh. Bagi Moltmann, kita harus mengingat bahwa keyakinan kita dalam 'iman' kita telah memaku Yesus diatas kayu salib. Kita telah menimpakan dosa yang menceraikan hubungan kasih suci ketiga Pribadi Allah, yang begitu melukai Allah Tritunggal sampai Allah Anak berseru kepada Allah Bapa dan Roh Kudus: "Eli, Eli lama sabachtani?"
Menurut kalian, seberapakah kita harus mempertanyakan kepercayaan iman kita yang telah kita pelajari sejak kecil ? Bagaimanakah kita bisa tahu dengan jelas bahwa iman kepercayaan kita itu membawa pedang tajam bermata dua tuk mengalahkan iblis, dan bukan cemeti berduri yang mencambuk Tuhan kita, Yesus?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment