at dengan perasaan intim ini, yaitu hormon oxytocin. Mereka meneliti dua macam tikus: yang pertama itu, Praire voles, (sebelah kiri) sudah diketahui bahwa mereka setelah kawin akan tetap berpasangan dengan setia. Sedangkan yang jenis kedua, Montane voles, (sebelah kanan) kawin bebas, tidak setia
.
Walaupun DNA mereka 99% sama, ternyata otak praire voles yang setia itu lebih banyak oxytocin-nya dan lebih sensitif terhadap oxytocin daripada montane voles yang tidak setia. Terlebih lagi, sewaktu pasangan praire voles yang setia ini diberi obat yang menurunkan level oxytocin, mereka menjadi tidak setia seperti montane voles.
Memang experiment ini dilakukan terhadap tikus, tetapi hormone oxytocin memang mempunyai peranan penting bagi manusia juga. Oxytocin (kanan) adalah hormone yang memuncak sewaktu orgasm bagi wanita dan ejaculation bagi pria. Oxytocin juga penting untuk ibu melahirkan atau menyusui. Selain oxytocin, level hormone dopamine juga naik setelah hal-hal yang memuaskan, termasuk sewaktu menerima hadiah kejutan dan sex. Oxytocin dan dopamine memberi kita perasaan hangat dan puas yang membuat kita menjadi lebih dekat setelah hal-hal tersebut.
Sekarang karena experiment tidak boleh dilaksanakan di orang, kita tidak tau jelas apa efek oxytocin ini. Tetapi pertanyaan2 etika dibawah ini buat saya sangat tertarik:
- Bagi yang masih single, apakah oxytocin bisa dibuat menjadi pil jatuh cinta?
- Bagi pasangan yang sudah menikah, jika ada masalah keluarga, apakah oxytocin akan membantu untuk membuat pasangan tersebut merasa lebih intim, ingat cinta mereka yang pertama, dan menjadi lebih setia dalam pernikahan mereka ? Jika iya, bolehkah oxytocin ini dipakai ?
- Penelitian menunjukkan bahwa otak orang pemakai narkoba mengandung kadar oxytocin dan dopamine yang tinggi, seperti orang jatuh cinta atau berhubungan intim. Jika demikian, apakah kesetiaan itu hanyalah suatu manifestasi akan ‘kecanduan cinta’ ?
- Seberapakah kuasa ratio kita dibandingkan dengan efek hormones di otak kita ?
- Jika ada seorang playboy, patutkah orang itu di suntik oxytocin dan dopamine supaya menjadi lebih setia dan bepengertian? (Montane voles yang tidak setia menjadi setia setelah disuntik oxytocin).
- Apakah manusia itu pada nature aslinya tidak setia, kekurangan oxytocin, tetapi melalui pendidikan budaya dan agama menjadi setia dalam cinta?
- Jika manusia memang pada dasarnya mahluk yang setia, apakah orang yang playboy itu sebenarnya termasuk orang yang sakit, kekurangan hormone, dan perlu diobati ?
Have a wonderful Valentine's Day ^_^
Jangan lupa ke persekutuan pemuda yah Jumat ini !

2 comments:
hemm, menarik banget nih artikel. oke deh, comment2 gua. Gua nda setuju cinta pake obat. Karna cinta itu bukan penyakit. And kalau minum obat tuh kesannya udah enek banget, terpaksa deh biar ndak enek gua minum obat, ini jawaban gua buat no satu dan dua, dst. Ada istilah menarik, "mencintai cinta" dimana orang cinta akan perasaan jatuh cinta. Nah ini bukan penyakit mental ato apa, cuman ada ajah orang kayak begini. Pertanyaan ogud, apakah semua tindakan kita diatur oleh hormon? I don't think so,sebab manusia lahir selai akal budi, kita juga ada perasaan.
Ada orang yang setia dan tidak, itu adalah fakta yang kita harus akui, lagian, orang playboy itu bukan kekurangan enzim, tapi kebanyakan enzim bukan? jadinya napsuan. Gini deh pertanyaan akhir dari gua, lu sendiri mau ndak punya cowo/cewe yang setia ama lu gara2 obat. How do you know the real feeling. Mau ndak lu di suntik obat supaya setia, I don't think anyone wants a fake love
"mencintai cinta" apa artinya yah ? soalnya bisa bahaya dong, orang cuma maunya rasa jatuh cinta sampai gegabah suka sama org.
mengenai apakah tindakan kita semua diatur hormon, saja tidak, tapi hormon pengaruhnya besar. Misalnya, perempuan bisa suka tipe lelaki yg berbeda tergantung pada level hormon mreka.
mengenai org playboy kebanyakan enzim, aku nggak tau, enzim apa yah namanya ? apa maksud loe kebanyakan testosterone ? memang kita tdk mau klo org jatuh cinta hanya karena obat, tapi kalau kita tau bahwa org playboy itu level hormon nya lbh rendah dr normal, sakit, apakah kita akan menyalahkan mreka separah klo dia normal ? Kalau kekurangan acetylcholine bisa pikun, kekurangan dopamine jadi susah gerak dan berpikir, bgm kalo kekurangan oxytocin jadi tdk setia ?
Post a Comment